Balikpapan

East Kalimantan

Telepon

(0542) 425381

Email

humas@untri.ac.id

Pertanian Regeneratif – Kita semua setuju bahwa makanan sangat penting, tetapi tahukah Anda bagaimana cara memproduksinya juga sangat krusial? Pertanian konvensional yang mengandalkan bahan kimia dan pengolahan tanah intensif telah membuat tanah sakit.

Tanah yang sakit tidak hanya menghasilkan makanan berkualitas rendah, tetapi juga berkontribusi pada perubahan iklim. Oleh karena itu, kita harus mencari solusi yang lebih baik. Jawabannya terletak pada pertanian regeneratif, sebuah pendekatan revolusioner yang tidak hanya memanen hasil, tetapi juga memulihkan kesehatan ekosistem pertanian kita. Ini adalah filosofi pertanian yang menempatkan alam sebagai mitra, bukan musuh.

Apa Sebenarnya Pertanian Regeneratif?

Banyak orang mungkin menganggap pertanian regeneratif hanya sekadar istilah keren untuk “organik”, tetapi sebenarnya jauh lebih mendalam. Secara sederhana, pertanian regeneratif adalah sistem pertanian yang secara aktif memperbaiki dan memulihkan sumber daya alam yang telah terdegradasi, terutama tanah. Fokus utamanya adalah meningkatkan kesehatan dan kesuburan tanah, memperbaiki siklus air, dan meningkatkan keanekaragaman hayati. Ini berbeda dengan pertanian konvensional yang sering kali bersifat “degeneratif”, yang berarti sumber daya tanah dan lingkungan terus menurun seiring waktu.

Alih-alih terus-menerus memberikan pupuk kimia dan pestisida untuk memaksa hasil panen, kita justru memberdayakan alam untuk melakukan pekerjaannya. Prinsip-prinsip utamanya meliputi meminimalkan gangguan tanah, menjaga tanah selalu tertutup, mendiversifikasi tanaman, dan mengintegrasikan ternak. Dengan menerapkan praktik-praktik ini, kita mulai membangun kembali ekosistem mikroba yang kaya di dalam tanah. Oleh karena itu, petani menjadi manajer ekosistem, bukan sekadar penanam hasil panen. Pergeseran pola pikir ini menjadi kunci untuk mencapai keberlanjutan jangka panjang.

Lima Pilar Kunci Menuju Tanah yang Subur dan Sehat

Bagaimana kita dapat mengubah tanah yang lelah menjadi ekosistem yang hidup dan produktif? Ada lima pilar utama yang menjadi inti dari praktik pertanian regeneratif. Masing-masing pilar bekerja sama untuk menciptakan fondasi yang kuat bagi pertanian yang tangguh dan berkelanjutan. Kita harus memastikan kita memahami setiap elemen untuk berhasil menerapkan sistem ini.

Pertama, Gangguan Tanah Minimal (Minimum Tillage/No-Till). Kita harus mengurangi atau bahkan menghilangkan kegiatan membajak tanah secara berlebihan. Pembajakan yang intensif merusak struktur tanah, melepaskan karbon ke atmosfer, dan membunuh mikroorganisme bermanfaat. Dengan menjaga tanah tetap utuh, kita melindungi jaringan kehidupan di bawah permukaan yang sangat penting untuk siklus nutrisi. Kedua, Menjaga Penutupan Tanah Permanen. Selalu tutupi tanah dengan vegetasi hidup, sisa tanaman, atau mulsa. Tanaman penutup tanah ini melindungi tanah dari erosi air dan angin, menjaga kelembaban, dan menambah bahan organik saat mereka terurai. Ketiga, Diversifikasi Tanaman. Tanam berbagai jenis tanaman bukan hanya satu (monokultur). Rotasi tanaman dan tumpang sari meningkatkan kesuburan tanah secara alami, memutus siklus hama dan penyakit, dan memberikan nutrisi yang berbeda-beda bagi mikroba tanah.

Keempat, Mempertahankan Akar Hidup Sepanjang Tahun. Pastikan selalu ada tanaman yang berakar di tanah. Akar hidup terus memberi makan mikroba di dalam tanah dengan gula karbon (disebut eksudat), yang menjaga kesehatan dan struktur tanah. Terakhir, Integrasi Ternak (Jika Ada). Mengelola penggembalaan ternak secara terencana membantu menyuburkan tanah melalui kotoran mereka dan merangsang pertumbuhan akar tanaman padang rumput, meniru bagaimana ekosistem alami bekerja.

Manfaat Nyata: Lebih dari Sekadar Panen

Mengadopsi pertanian regeneratif memberikan dampak positif yang berlipat ganda, jauh melampaui peningkatan hasil panen saja. Dampak lingkungan, ekonomi, dan sosialnya sangat signifikan dan memberikan harapan nyata untuk masa depan.

Secara ekologis, tanah yang sehat bertindak seperti spons raksasa. Tanah tersebut menyerap dan menyimpan lebih banyak karbon dari atmosfer (sebuah proses yang disebut carbon sequestration), yang secara langsung membantu mitigasi perubahan iklim. Selain itu, tanah yang berlimpah bahan organik mampu menyimpan air lebih banyak, membuat lahan pertanian lebih tangguh terhadap kekeringan atau curah hujan ekstrem sebuah keuntungan penting di tengah ketidakpastian iklim.

Pengurangan penggunaan bahan kimia sintetis juga berarti lebih sedikit polusi pada air, tanah, dan rantai makanan kita. Secara ekonomi, meskipun transisi mungkin memerlukan penyesuaian awal, para petani sering kali mengurangi biaya input jangka panjang. Ketika kesehatan tanah membaik, ketergantungan pada pupuk kimia dan pestisida yang mahal menjadi berkurang.

Diversifikasi tanaman juga menciptakan sumber pendapatan tambahan dan memberikan ketahanan finansial. Pada akhirnya, dengan mendukung gerakan pertanian regeneratif, kita semua berinvestasi dalam sistem pangan yang lebih stabil, lingkungan yang lebih sehat, dan masa depan yang lebih aman bagi semua orang.

Apakah Anda tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana Anda dapat mendukung petani yang menerapkan praktik pertanian regeneratif?